Sang Bupati Garut …

Sang Bupati Garut

Sang Bupati Garut, The “News Maker”

Satu minggu ini kita disuguhkan berita yang cukup membuat dahi berkerut, seorang laki-laki muda dengan karir cukup cemerlang memimpin wilayah Kabupaten dari  sebuah propinsi (Jawa Barat).

Kabupaten Garut yang terkenal dengan kuliner ‘DODOL” tiba-tiba menjadi perbincangan dan menjadi berita nasional  bukan karena prestasi pemimpinnya tapi justru prilaku tidak terpuji dan cenderung tidak ber’etika dari orang nomer satu di Garut yang terkenal dengan sebutan “Aceng” Sang Bupati Garut.

Siapa yang menabur angin dia akan menuai badai, karena syahwat biologisnya mendorong Sang Bupati Garut, melakukan tidakan tidak beretika “Menikahi gadis berusia delapan belas tahun” yang kemudian diceraikannya dalam waktu belum satu minggu (4 hari saja), dan yang membuat mayarakat garut khususnya serta kaum perempuan umumnya MARAH…!!! pemutusan hubungan pernikahan itu dilakukan via SMS.

Lelaki yang mengaku dirinya tampan ini, kini menjadi celebritis dadakan muncul di berbagai stasiun TV, dan dengan gayanya yang percaya diri mencoba melakukan pembelaan diri dengan berbagai alasan yang tidak konsisten, dari alasan mantan istrinya sudah tidak perawan, mempunyai penyakit polio, sampai bau mulut yang tidak sedap terekam oleh para pencari berita, itu baru alasan secara pisik dari mantan istrinya yang dikeluhkan setelah dinikmati dalam waktu yang kurang dari satu minggu itu, alasan lain adalah beban psikologis dari Sang Bupati  begitu yang disampaikan… tidak jelas apa yang dimaksud karena tidak disampaikan secara jelas, tapi Sang Bupati Garut itu mengatakan dia sdh mengantongi izin dari istri pertamanya, dengan berbekal izin itu masih kata Sang Bupati Garut, beliau menemui guru-gurunya, para kyai dan ulama untuk mencarikan solusi,pada akhirnya dipertemukan dengan gadis berusia 18 tahun yang pada saat itu masih duduk dibangku SLTA.

Pertanyaannya,  guru, Kiyai dan Ulama dari Sang Bupati Garut yang dijadikan tempat curhat orang nomer satu garut ini, apakah mungkin memberikan nasehat dengan solusi yang buntutnya melahirkan tindakan tidak terpuji dari Sang Bupati Garut, mendengar alasan dari yang dikemukakan Sang Bupati Garut, nampaknya beliau mengisyaratkan bahwa ini bukan hanya kesalahan dia semata, mungkin Sang Bupati Garut yang akrab disebut Aceng ini ingin mengatakan “gue udah minta saran ame orang2 yang berkompeten, jadi jangan hanya salahin gue dong…..!”

Memang yang sangat menyedihkan sekaligus membuat MARAH, Sang Bupati Garut ini telah menganggap remeh Lembaga Pernikahan yang sangat mulia dan sakral yang didalamya ada aturan2  jelas baik hak dan kewajiban dari kedua belah pihak (suami dan Istri) yang melakukan pernikahan, Lembaga Pernikahan khususnya dalam Islam sangat menjaga Hak dan Kewajiban itu, bahkan disediakan lembaga pengadilan agama jika ada aturan2 dari hak dan kewajiban itu dilanggar, tidak semena-mena apalagi menceraikan dengan melalui SMS ditambah bahasa yang sangat tidak santun dari seorang pemimpin dari sebuah kabupaten….

Sudah sepantasnya Sang Bupati Garut yang mengaku tampan ini, dimintai pertanggung jawabannya dari apa yang telah dilakukan, yang hanya karena syahwat dia telah mencoba mengakali aturan-aturan pernikahan yang telah difirmankan Allah SWT, dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi harkat derajat wanita dengan menjaga Hak dan Kewajibannya.

Sebaiknya Sang Bupati Garut ini bertobat dan meminta maaf kepada keluarga mantan istrinya dan kepada seluruh umat islam dan kaum wanita khususnya, bukan terus berkelit dengan alasan politis yang semakin memperlihatkan akhlaq yang tidak pantas apalagi dengan membawa kasus ini  keranah politik dengan mengatakan ini sengaja dicuatkan karena akan ada PILKADA di tahun 2013 lalu dengan mimik wajah yang menjengkelkan mengatakan bahwa ini pembunuhan karekter.

Tidak pantas seorang pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk menekan mengitimidasi siapapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya apalagi dengan segala kekuasaan dan materi yang dipunyainya mencoba membujuk, memaksa seseorang menandatangani selembar kertas di atas materai sebagai legitimasi hukum dalam semua tidakannya yang tidak beretika.

Semoga ini menjadi pembelajaran yang baik untuk Sang Bupati Garut….

Dan sebaiknya beliau mengembangkan kuliner garut yang sudah cukup dikenal “DODOL” bukan malah sikap dan ucapannya yang kaya dodol……

Tinggalkan komentar

Filed under umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s