BLUSUKAN ala SBY……………???

BLUSUKAN ala SBY……………???

Blusukan ala SBY, ramai jadi perbincangan dari pengamat politik,pakar komunikasi, aktifis partai, aktifis LSM sampai anggota dewan, semua berasumsi, berkalkulasi dan memprediksi apa maksud dan target yang akan dibidik sang Presiden SBY.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa bahkan itu hal yang sangat biasa dilakukan oleh para pendahulunya seperti Sri Sultan Hamangkubuwono VIII sebagai raja di Yogyakarta yang sering blusukan ke pasar, Pak Harto (Presiden RI ke 2) atau M.Yusuf ketika menjabat MENHANKAM PANGAB yang menyambangi para prajuritnya secara diam-diam, bahkan jauh sebelumnya hal ini dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dan yang sering kita dengar juga prilaku khalifah Amirul Muminin Umar bin khatab yang sering keluar malam blusukan bahkan beliau melakukan Incognito atau secara sembunyi tidak ada yang mengetahui kepergian sang khalifah tanpa pengawalan dan tanpa pemberitahuan, hanya untuk mengetahui apa yang dialami rakyatnya permasalahan apa yang dihadapi…? dan sebisa mungkin diatasi secepatnya sehingga rakyat mendapat manfaat secara langsung , jadi apa yang dilakukan SBY dengan mendatangi kampung nelayan dan berpidato di atas meja bukanlah hal luar biasa yang yang harus ditanggapi dengan gegap gempita….biasa saja, karena begitulah seharusnya seorang pemimpin harus blusukan agar dapat menyambung rasa dengan rakyat yang dipimpinnya, mengetahui permasalahan yang terjadi dan memberikan solusi kemudian mengeksekusi sehingga setiap permasalahan dapat teratasi.

Yang menarik dan cukup mengherankan untuk dicermati bagaimana elit-elit politik partai berkuasa (Partai Demokrat) seperti kebakaran jenggot bereaksi secara naif, ketika masyarakat menilai dan membandingkan blusukan ala SBY dengan apa yang dilakukan gubernur DKI yang baru terpilih “Jokowi” yang rajin blusukan, seperti melihat gorong2, jalan dijembatan rusak, datang ke perkampungan kumuh, menikmati banjir diperkampungan, tapi semua dilakukan secara spontan dengan datang tanpa pengawalan, tanpa protokoler juga tanpa baju kebesaran, dan yang terpenting lagi memberi solusi untuk kemudian mengeksekusi, ini yang namanya blusukan  ya…paling tidak mendekati dengan Incognito yang dilakukan Umar bin Khatab.

Blusukan sendiri sulit dicari arti yang sebenarnya dikamus bahasa indonesia, mungkin arti yang mendekati adalah mendatangi tempat-tempat yang tidak biasa…!!!, jika dilihat dari “kata” nampaknya ini serapan dari bahasa atau istilah masyarakat jawa wallahualam, mungkin penulis harus bertanya pada ‘lik war salah satu kawan yang paham istilah2 jawa secara historis, tapi disini penulis tidak akan berkutat untuk mempermasalahkan “Istilah” karena itu tidak menyehtuh secara substansi.

Blusukan ala SBY yang sedang ramai dibicarakan beberapa hari ini malah seperti dagelan politik, dipolitisasi bahkan didramatisir sedemkian rupa sehingga menjadi topik yang membosankan, yang jadi pertanyaan untuk dapat kita apresiasi, apa output dari blusukan ala SBY itu, ada atau tidak tindak lanjut, dengan kata lain “solusi” yang tepat dari permasalahan dan kemudian mengeksekusi, karena blusukan itu bukan untuk membangun citra atau meraih popularitas atau juga mempublikasikan diri, karena blusukan bukanlah panggung kampanye atau media untuk berpidato atau beretorika, blusukan adalah mencari tau masalah yang dihadapi pada suatu tempat atau masyarakat lalu mengatasi permasalahan itu, bukan hanya dengan sekedar kata turut prihatin karena itu bukan solusi.

Kelelahan rakyat adalah ketika para pemimpin hanya ikut prihatin dengan apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat dengan kondisi rakyatnya…!!!
ini bukan panggung sandiwara, karena ini kenyataan di depan mata STOP…retorika…!!!, kenapa harus kebakaran jenggot bila dikatakan mengekor Jokowi, karena mencontoh sesuatu yang baik bukanlah hal yang bodoh atau tidak kreatif, mungkin akan lebih dahsyat Pak.SBY bukan blusukan tapi incognito seperti apa yang dilakukan Amirulmuminin Umar bin Khatab, datang secara diam-diam tanpa protokoler melakukan komunikasi secara sedehana, walaupun secara standar pengamanan diminta atau tidak pengamanan akan dilakukan namun semua sesungguhnya ada ditangan sang Presiden, jika Sri Sultan sebagai raja, Pak.Harto yang juga Presiden dan M.Yusuf sebagai MENHANKAM PANGAB bisa melakukan, dan pemimpin besar sekelas Umar bin Khatab yang menaklukan negara adi daya sekelas Roma dan Persia biasa ber Incognito yang lebih dari blusukan, semuanya tinggal bagaimana niat dan keberanian.

Kecintaan rakyat yang tidak dibuat-buat kepada pemimpinnya adalah kedekatan emosional “suasana bathin” yang tersambung melalui komunikasi sosial yang juga tidak di buat-buat, karena seorang Presiden tidak perlu publikasi, tidak perlu mencitrakan diri atau meraih popularitas, karena seluruh rakyat sudah tau bahwa Presiden adalah pemimpin negara yang dicintainya.

Tinggalkan komentar

Filed under opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s