Saling Tolong itu Indah

                       a.tolong mrnolong

Saling Tolong itu Indah

Mengawali awal tahun 2014, ramai-ramai orang membuat prediksi, resolusi, dan “si…si…” yang lain lagi, sah-sah saja orang mau melakukan apa, yang penting tidak merugikan orang lain itu intinya, saya sendiri mencoba mengawali tahun yang baru masuk ini ‘2014, dengan mencoba kembali mereview.. apa saja yang bisa saya ingat di tahun-tahun 2013 dan tahun2 sebelumnya.

Setelah melihat tulisan-tulisan di blog saya sekedar melihat apa saja yang pernah saya rasakan dan lakukan, tiba-tiba saya membaca kembali tentang tulisan saya yang berjudul “Mangan Ora Mangan Kumpul“, pepatah jawa yang sangat fimiliar itu selalu saja menggelitik, akhirnya membuat saya untuk menayangkannya kembali tapi dengan tambahan-tambahan tulisan sedikit.
entah kenapa saya ingin mengganti judulnya dengan “Saling Tolong itu Indah”

Sebuah pepatah jawa yang sering kita dengar, Mangan Ora Mangan Kumpul… ungkapan yang jika kita terjemahkan kurang lebih adalah “Makan ngga makan yang pengting kumpul”, nampaknya juga mengandung arti sosial yang lebih dalam, lalu apa maksud yang terkandung lebih dalam itu…?.

Ungkapan yang kerapkali terlontar dari masyarakat kita itu, sekarang sudah menjadi ungkapan umum dan bukan milik masyarakat jawa lagi, kekerabatan serta budaya kebersamaan saling merasakan “empaty“, susah senang bersama tercermin dari ungkapan ini, tapi apakah pengewajantahan dari ungkapan itu masih ada pada kondisi masyarakat kita sekarang ini mari kita telusuri supaya tidak menjadi tanda tanya besar….?.

Maraknya kekerasan yang terjadi di Negri  kita ini, sudah bukan hal yang aneh bahkan sudah menjadi budaya. prilaku yang tidak lagi mencerminkan bangsa yang ramah dan terkenal dengan budaya GOTONG ROYONG, saling menolong, berempaty, dan rasa solidaritas yang tinggi…itu kini sudah sudah sulit kita temui.

Kekerasan sudah menjadi tontonan hari-hari dan para pelakunya’pun bukan hanya dari golongan yang secara ekonomi berkukarangan sehingga mereka harus melakukan kejahatan demi perut untuk sekedar bertahan hidup,  kekerasasan atau tindak kejahatan bahkan kini sudah bergeser didominasi oleh kaum berdasi seperti pengusaha yang gemar memperkaya diri dengan selalu menghindar pajak dan menindas para buruh memperlakukan mereka tak ubahnya budak yang melakukan kerja rodi lalu  membayar upahnya dengan bayaran jauh dari kata cukup alias di bawah UMR.

Dan kondisi ini diperparah dengan prilaku para “pejabat” yang juga gemar memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya, sebagai pemerintah sekaligus pengelola negara, mereka tidak sedikitpun punya rasa  malu atau risih melakukan tindakan “KORUPSI”, mengambil apa yang bukan menjadi hak nya, tidak perduli rakyatnya menderita kelaparan, dan menjerit karena tak mampu membawa anaknya berobat karena sakit, atau menangis karena anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang selanjutnya.

Kekerasan, premanisme, pemerkosaan, pembunuhan semakin marak , tahun 2013, yang baru saja berlalu, banyak meninggalkan tragedi mengerikan wanita korban tindakan kekerasan, penganiyayaan dan bahkan pembunuhan sadis, bagaimana hari-hari kita dihiasi berita yang wara-wiri dari berbagai satsiun telivisi tentang kejadian tersebut.

Empaty, marasakan apa yang orang lain rasakan, senasib sepenanggungan, dalam keadaan lapar ataupun kenyang, saling menolong di dalam kesulitan dengan tidak memandang strata sosial, kekayaan, pendidikan, jabatan dan hal-hal keduniaan, itu sekarang seperti sudah sirna, entah di mana nurani kita.

               a. semut saling tolong

Apa yang melatar belakangi terkikisnya pengewajantahan dari ungkapan yang sederhana ini “Tolong Menolong“, sehingga terjadi dekadensi moral yang meluas, para generasi muda bahkan lebih bangga dan menyukai serta mencontoh budaya barat yang menganut paham kebebasan dalam segala hal tidak ada lagi keperdulian di antara sesama mereka.

Norma-norma agama, tatakrama budaya timur seperti terhapus dalam kamus kehidupan masyarakat kita, lalu dimana peran para ahli agama….kalaupun ada, apa yang sesungguhnya mereka berikan…?, sehingga  yang mereka sampaikan hanya dipahami sebatas lawakan yang memancing tawa, dan lebih memprihatinkan para pendakwah ini tidak lagi memperhatikan apa yang disampaikannya berdampak perbaikan akhlaq atau tidak.

Tampaknya hal perbaikan akhlaq tidak  menjadi perhatian serius bagi para pendakwah ini,  yang menyebut dirinya para ustadz muda dengan berbagai julukan masing2,   karena target nyapun sekarang  adalah materi, uang dan fasilitas, maka tidak heran jika merekapun ramai-ramai membuat magemen layaknya para artis, dengan tujuan mengisi acara-acara di berbagai telivisi, wawancara dan liputan dengan berbagai infotainment, bermain sinetron itu semua dilakukan,   demi mengejar popularitas yang ujung-ujungnya para pendakwah atau ustadz ini, merasa sebagai selebritis yang memang harus dibayar mahal, maka tarif pun dipasang, masalah materi dakwah akan sampai secara baik atau tidak itu bukan hal yang penting, apalagi materi yang disampaikan itu akan  mengubah prilaku masyarakat menjadi lebih berakhlaq atau tidak… itu sudah tidak terpifikirkan lagi.

            anak saling tolong

Semoga di tahun 2014, semua akan berubah menjadi lebih baik, dan masyarakat indonesia dapat kembali  pada prilaku-prilaku yang lebih baik seperti apa yang  dikenal “bangsa yang ramah”.

Mangan Ora Mangan Kumpul, bukan sekedar hanya ungkapan atau pepatah, namun lebih dari sekedar itu, Mangan Ora Mangan Kumpul, adalah nasehat bahwa “sesenang apapun dan sesulit apapun, tetaplah saling mengasihi didalam kebersamaan, saling tolong, saling menghargai berkumpul/berjamaah untuk saling mensuport, saling menguatkan dalam tali silaturahim.

Dan GOTONG ROYONG adalah budaya asli masyarakat indonesia, menggambarkan para pendahulu kita bahu membahu membangun Negri ini dengan kebersamaan saling “Tolong Menolong“, menghargai satu sama lain, menciptakan suasana yang damai.

Ujung bogor, awal 2014  : Heri Kaendo

Tinggalkan komentar

Filed under umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s