GAS ELPIJI NON SUBSIDI DI TENGAH PENCITRAAN

                    12 kg

GAS ELPIJI NON SUBSIDI DI TENGAH PENCITRAAN 

Gonjang ganjing kenaikan GAS ELPIJI non subsidi 12kg, yang telah menimbulkan reaksi dari masyarakat dan berbagai elemen mahasiswa itu sampai hari ini (06/01/2014), masih terus berlangsung, bahkan di depan gedung Pertamina Badan Usaha Milik Negara yang telah membuat keputusan dengan menaikkan harga jual GAS ELPIJI non subsidi 12kg sebesar Rp 3.959 per kilogram atau sekitar 68%, ternyata mengakibatkan dampak sosial yang cukup besar terutama di tingkat masyarakat menengah ke bawah.

Kenaikan harga yang cukup membebani rakyat kecil itu, telah membuat rakyat menjerit khususnya para pedagang yang banyak menggunakan GAS ELPIJI non subsidi 12kg ini, bukan itu saja efek domino yang ditimbulkan adalah para pengguna GAS ELPIJI 12Kg beralih ke GAS ELPIJI 3Kg, yang berdampak permintaan GAS EPIJI 3Kg meningkat drastis, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kecil yang terbiasa menggunakannya, dan GAS ELPIJI 3Kg itupun tiba-tiba berkurang dan nyaris hilang di pasaran.

                    3kg
GAS ELPIJI 3Kg yang makin sulit di cari

Hasil audit BPK yang menjelaskan bahwa  Pertamina telah mengalami kerugian sebesar 7.7 triliun rupiah, adalah rekomendasi yang dipatuhi oleh Badan Usaha Milik Negara itu, dalam memutuskan kenaikan harga tersebut.

Walaupun penentuan harga GAS ELPIJI non subsidi 12kg  ini konon merupakan domain   Pertamina, namun dalam memutuskan kebijakan ini seharusnya Badan Usaha Milik Negara itu memperhitungkan dampak sosial dari kenaikan harga yang diputuskannya yang mencapai 68%, sehingga efeknya sangat meluas.

Tahun 2014, adalah tahun politik khususnya di negri yang kita cintai ini “Indonesia”, sehingga apapun prilaku atau kebijakan dari para pengelola negara/pemerintah  dan para politisi akan menjadi  sorotan, pujian atau bahkan sebaliknya akan berbuah cibiran atau hujatan, krena begitulah sejatinya dunia politik tidak ada teman abadi yang ada adalah kepentingan abadi.

Seperti ketika akhirnya  ,  Presiden merespon kasus di atas dengan memberi waktu kepada Pertamina dan Kementerian terkait untuk berkoordinasi dalam menentukan kenaikan harga GAS ELPIJI non subsidi 12kg dengan mengultimatum 1 X 24 jam, Minggu (5/1/2014) , hasilnya Pertamina mematuhi ultimatum Presiden, bahkan merevisi kenaikan tersebut dari Rp 3.959 per kilogram, menjadi Rp 1.000 per kilogram.

Respon positif di ataspun mendapat beragam tanggapan, sehingga apa yang  dilakukan Presiden tidak lebih dianggap dari sebuah pencitraan,

Sebenarnya respon  apapun yang dilakukan oleh Pak SBY, sebagai Presiden RI, sekaligus Pendiri dan Pembina Partai Demokrat tak ubahnya seperti memakan buah simalakama “dimakan bapak mati. tidak dimakan ibu yang mati”  akan mengandung resiko tuduhan yang kurang lebih sama “merespon akan dikatakan pencitraan, …mendiamkan  sama dengan tidak peka terhadap aspirasi masyarakat yang bebannya semakin hari semakin tambah berat….. mendukung  keputusan awal Pertamina…apa lagi.. akan dianggap membunuh rakyat kecil…!!!.

Politik pencitraan memang bukanlah hal yang haram untuk dilakukan selama dilakukan melalui sikap dan tindakan yang jujur apa adanya, tapi  manakala pencitraan itu dibangun melalui satu konspirasi dan kebohongan itu tak ubahnya prilaku tidak terpuji dan munafik….!!!.

Heri.SK

Tinggalkan komentar

Filed under opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s